Pengunjung bulan ini : 11378
  
Untitled Document

View to print
Uswah dan Hikmah....

MASYARAKAT INDUSTRI :
TANTANGAN BARU BAGI UMAT ISLAM

  
 

Pengantar

Masyarakat Industri adalah masyarakat yang menjalankan aktivitas dan memenuhi kebutuhan hidupnya dari hasil teknologi modern, bentuk kongkrit masyarakat industri dapat dilihat pada negara-negara maju, seperti Amerika, Jepang, Jerman, Perancis dan Inggris.

Hampir setiap masyarakat menginginkan kemajuan hingga mencapai Masyarakat Industri, karena segala permasalahan hidup, hampir dapat dipecahkan dengan hasil teknologi dan berjalan secara efisien dan efektif.

Bangsa Indonesia sekarang ini, juga mempersiapkan diri ke arah pembentukan Masyarakat Industri. Oleh karena itu sudah selayaknya bagi umat Islam mempersiapkan diri, untuk menghadapi tantangan Masyarakat Industri dengan segala problematikanya.

Keadaan Masyarakat Industri

Syarat utama terbentuknya masyarakat industri, dapat dilihat dari adanya modal yang cukup besar, karena dengan modal tersebut dapat digunakan untuk melakukan penelitian, pengajaran ilmu pengetahuan dan pembuat alat-alat industri.

Ada beberapa ciri khusus masyarakat industri yang perlu diperhatikan untuk pemecahan masalah bagi umat Islam, diantaranya ialah :

•  Pertama

Mereka dalam menyambung kehidupan tidak melewati lahan pertanian seperti masyarakat agraris atau mengandalkan hasil peternakan, seperti masyarakat padang pasir, melainkan pada jalannya mesin-mesin pabrik, khususnya di daerah perkotaan, sedangkan pertanian dikerjakan di daerah pedesaan dalam lokalisasi yang sangat kecil, karena dengan hasil ilmu pengetahuan dan teknologi mampu menciptakan panen yang cukup besar, di Amerika Serikat lokalisasi pertanian hanya 5% saja, sudah mampu memberikan kehidupan pada masyarakat lain yang bekerja di luar sektor pertanian.

Ketergantungan masyarakat industri terhadap pabrik, sama halnya bergantung dengan penguasa pabrik, tidak jarang dijumpai penguasa pabrik bersikap tidak etis atau tidak manusiawi terhadap pekerja diantaranya melarang beribadah, membuka aurat, memaksa ikut upacara agamanya, bila tidak bersedia akan dikeluarkan. Mereka yang tidak tahan menghadapi kesulitan hidup mudah melepaskan kepercayaan agamanya. Berbeda dengan masyarakat yang menggantungkan hidupnya dengan tanah pertanian, tanah tersebut tidak mampu memaksakan orang berlaku dholim.

•  Kedua

Potensi-potensi kehidupan terdapat pada sarana-sarana yang dapat menunjang perkembangan pabrik diantaranya ialah ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan gedung misalnya pengetahuan arsitek atau sipil, yang berhubungan dengan pengaturan personalnya terdapat pada pengetahuan personalia atau manajemen untuk pengembangan produksi terdapat pada manajemen pemasaran, akuntansi untuk kegiatan administrasinya dan masih banyak lagi pengetahuan untuk bekal hidup pada Masyarakat Industri.

Pengetahuan yang tidak berhubungan langsung untuk menunjang produksi kurang mendapatkan perhatian, misalkan pengetahuan keguruan, lebih dijauhkan lagi apabila bidangnya tidak berhubungan dengan produksi, misalkan bidang keagamaan, sejarah, bahasa, atau filsafat. Secara alamiah akan terjadi klas ilmu pengetahuan, pengetahuan teknik perusahaan lebih dominan daripada pengetahuan sosial. Akibatnya mereka akan cepat mendapatkan kemajuan material akan tetapi sangat ketinggalan terhadap permasalahan nilai-nilai kemanusiaan, kehidupan dan ketuhanan.

•  Ketiga

Kecintaan masyarakat industri terhadap kebahagiaan material sangat besar dibandingkan dengan kebahagiaan immaterial, sebagaimana kebahagiaan masyarakat agraris, yang lebih menekankan pada kerukunan, kasih sayang dan saling menghormati. Hal itu dapat dimaklumi karena bentuk-bentuk kebahagiaan material pada masyarakat industri kuantitas dan kualitasnya sangat banyak, variatif dan selalu mengalami perubahan, berkat dukungan kemajuan pengetahuan teknologi. Mereka lebih baik mengorbankan kebahagiaan immaterial yang ruang lingkupnya lebih kecil, demi kebahagiaan material. Sehingga masyarakat industri banyak mengalami gangguan psikis, rasa ketegangan, persaingan, ketakutan terhadap ketertinggalan dan konflik, perjudian, wanita dan minuman keras sering dijadikan tempat hiburan untuk menghilangkan ketegangan.

Persiapan Diri

Umat Islam dalam menilai kedatangan masyarakat industri ada yang bersifat apriori, memberikan kutukan terhadap setiap langkah yang dapat menunjang terbentuknya masyarakat industri, sebaliknya ada yang memberikan dukungan dan membenarkan terhadap semua aspeknya.

M. Rusli dalam bukunta “Agama dan Masyarakat Industri Modern” mengomentari sikap umat Islam terhadap masyarakat industri sbb :

“Setiap analisa tentang kaitan antara agama dan modernitas dilihat dari sudut pandang agama, cenderung bersifat apologis. Sikap apologis dalam rumusan umum sering menempatkan acara tak ubahnya seperti suatu alat untuk membenarkan semua perilaku kemodernan di satu pihak. Atau agama merupakan palu godam untuk mengutuk apa saja yang berbau modern di lain pihak. Kedua sikap ini sangat merendahkan martabat agama serta sekaligus memandang kesan ketidakberdayaan agama dalam menghadapi gelombang besar transformasi yang menyertai peradaban modern”.

Sikap yang logis dalam memberikan penilaian terhadap masyarakat industri dapat bersandar pada nilai keadilan dan kegunaan, karena tidak semuanya yang terdapat pada masyarakat industri berdampak negatif, Nabi Sulaiman pernah membangun masyarakat modern dan mampu memberikan kebahagiaan dan keadilan pada masyarakatnya, terhadap hal-hal yang negatif dan membawa kerusakan, kita harus memiliki keberanian menolak dan menghindarkan diri, untuk bersikap seperti itu dibutuhkan ilmu pengetahuan, harta benda, kerja keras atau jama ' ah, tanpa variabel diatas akan kesulitan bagi umat Islam menghindarkan diri dari kerusakan masyarakat industri, contoh kasus sederhana, dapat melihat ketidakberdayaan umat Islam terhadap pengaruh TV, meskipun mereka mengetahui bahwa TV akan dapat merusak mentalitas anak-anaknya.

Sumber hidup bagi umat manusia atau umat Islam merupakan kebutuhan primer, siapa yang menguasai sumber hidup akan menguasai manusia, Karl Marx seorang tokoh sosiologi mengemukakan bahwa sistem pengaturan hidup manusia merupakan dasar pembentukan unsur kebudayaan, teknologi, susila, politik, seni dan agama.

Allah juga menempatkan masalah sumber hidup sebagai masalah primer yang harus digali secara sungguh-sungguh dan profesional, tertulis pada surat Jum ' at ayat 10 yang artinya berbunyi : Apabila telah ditunaikan sholat Jum ' at, bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah hukum Allah (tentang ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan penggalian karunia Allah) sebanyak-banyaknya, supaya kamu mendapatkan kejayaan .

Pada surat An Nisa ' ayat 29 Allah menjelaskan etikanya, berbunyi : “ Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang BATIL, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah maha penyayang kepadamu ”.

Dimaksudkan memakan harta secara batil pada ayat diatas, bisa dengan jalan mencuri, menipu, memeras, menjual agama, melepaskan kewajiban-kewajiban yang diberikan oleh Allah dan lain sebagainya.

Perubahan sumber hidup dari lahan pertanian (pertanahan) ke tangan-tangan penguasa pabrik, secara prinsip tidak ada permasalahan karena umat Islam memiliki teknis dan etis yang mengatur tata cara pencarian sumber hidup. Idealnya umat Islam banyak yang menjadi pengusaha (penguasa pabrik) meskipun untuk mencapai kedudukan tersebut sangat sulit, khususnya pada masyarakat non Islami karena peran politik memiliki andil yang besar untuk mengantar manusia pada penguasa pabrik. Kita dapat menyaksikan calon pengangkatan Gubernur Jawa Timur, berapa banyak penguasa pabrik yang memberikan support (sambutan) atau pendekatan kepada Pak Basofi tentunya dengan orientasi masa depan usahanya.

Kalau kedudukan penguasa pabrik tidak dapat dilaksanakan, umat Islam dapat menjadi pegawainya dimanapun tempatnya dengan catatan tidak ada persyaratan yang dapat meninggalkan kewajiban agama. Bila ada persyaratan tersebut kita lebih baik hijrah mencari lahan pekerjaan lain mungkin dengan hasil dan fasilitas yang lebih kecil, sikap itu lebih baik dan bersifat wajib daripada mendapatkan hasil besar tapi harus melewati kemungkaran tauhid.

Tokoh Ashabul Kahfi adalah contoh ideal bagi umat Islam yang menghadapi tantangan tauhid di pekerjaannya, beliau rela meninggalkan negerinya demi memelihara ketaatan kepada Allah, sampai Allah memberikan kemuliaan nama besar, pengalaman material dan immaterial.

Hal ini sulit dilakukan tanpa adanya tekad, pembiasaan kerja berat dan pemahaman nilai pekerjaan dalam Islam. Selama masih dalam ada pekerjaan lain dan ada sumber kehidupan, kemungkaran dalam pekerjaan tidak dapat dikondisikan sebagai keadaan darurat.

Sarana yang menunjang kehidupan masyarakat padang pasir, agraris dan industri berbeda-beda, siapa yang memiliki dan berusaha mendapatkan sarana tersebut akan dapat berbuat lebih banyak, daripada mereka yang tidak memiliki pengetahuan dan sarana tersebut. Sarana kehidupan pada masyarakat industri sebagaimana disebutkan diatas adalah ilmu pengetahuan industri tetapi mereka lemah dalam pengetahuan nilai-nilai kemanusiaan dan ketuhanan, akibat yang jelas mereka akan berhasil menggali sumber-sumber alam, tetapi akan mendapatkan kegagalan dalam menempatkan kedudukan Allah sebagai penguasa tertinggi, gagal dalam menjalin hubungan antar manusia, mereka akan banyak menjumpai konflik, perselisihan, pemerasan dan peperangan.

Umat Islam dalam situasi seperti ini secara prinsip dapat melakukan 3 hal agar dapat berkiprah dan berlaku benar yaitu :

  • Mempelajari pengetahuan ketuhanan dan kemanusiaan
  • Mempelajari ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan sarana perusahaan (pabrik)
  • Mengaktualisasikan pengetahuan tersebut di tengah masyarakat

Tentang teknisnya bisa dilakukan pembagian tugas, mengenai kualitas dan kuantitasnya tergantung dari kebutuhan, bilaman tingkat kerusakan masyarakat banyak berhubungan dengan nilai-nilai ketuhanan, idealnya ilmu pengetahuan bidang ketuhanan lebih ditekankan dan diaplikasikan khususnya pada konsep operasionalnya dan nilai keilmiahannya, tanpa adanya nilai keilmiahan dalam menjabarkan konsep operasional dari Allah, mereka akan kesulitan menerima sebagai konsep kebenaran. Sikap ini pernah dilakukan oleh Nabi Musa ketika menghadapi masyarakat Fir ' aun yang memiliki peradaban tinggi, beliau hanya menekankan pada pengetahuan ketuhanan, kemanusiaan dan kemasyarakatan, karena dengan pengetahuan tersebut dapat digunakan sebagai peringatan atas kekeliruan yang dilakukan oleh masyarakat Fir ' aun, sehingga mereka mengetahui kekeliruannya, kecuali orang-orang sombong.

Kebahagiaan yang terdapat pada masyarakat industri, sangat luar biasa mulai dari makanan, perumahan, alat-alat perumahan, transportasi, seksual, olah raga seni dan berbagai hiburan, tidak jarang menjadi batu sandungan bagi umat Islam, kaum Bani Israil pernah hancur, bahkan pernah meninggalkan peribadatan hari Sabtu karena tidak tahan melihat berbagai kebahagiaan material. Kholifah Utsman bin Affan, gagal mengatur masyarakatnya karena tuntutan masyarakat mengenai harta yang dimiliki Kholifah Utsman sangat besar, sampai terjadi pemberontakan. Dalam hal ini Allah hanya memperingatkan bahwa kebahagiaan akherat lebih tinggi dari kebahagiaan dunia dan siksa akherat jauh lebih dahsyat daripada penderitaan apapun di dunia.

Allah bukan melarang pada hamba-hamba-Nya untuk hidup bahagia di dunia dengan menggunakan sarana-sarana masyarakat industri, melainkan Allah melarang kebahagiaan yang berdampak bencana, kebahagiaan yang didapatkan diatas penderitaan orang lain, kebahagiaan yang didapat dengan cara mengambil hak orang lain.

Dengan demikian, umat Islam harus jeli memilih sarana-sarana kebahagiaan yang terdapat pada masyarakat industri, sehingga sarana tersebut mampu memberikan rahmat pada kita dan orang lain.

    
master mba phd scholarships master mba phd scholarships master mba phd scholarships
›› Top